gimkita

BERITA

Dari Renaisans ke Kotoran Merah Muda: Kisah Gila di Balik Item Paling Aneh The Immortal John Triptych

2 Agustus 2026

Ketika Pelukis Renaisans 'Menyediakan' Bahan Baku Kotoran Sapi

Membuat game dari sobekan lukisan Renaissance sudah terdengar tidak biasa. Tapi meramu ember penuh kotoran sapi merah muda yang bisa berubah warna berdasarkan makanannya? Itu adalah level kekacauan kreatif yang hanya bisa lahir dari otak seorang developer nekat. Melansir dari Xbox Wire, kisah di balik item nyeleneh ini datang langsung dari sang kreator saat mengerjakan Death of the Reprobate, salah satu judul dalam trilogi The Immortal John Triptych.

Awalnya, tidak ada rencana untuk menghadirkan banteng penghasil pupuk warna-warni. Semua bermula dari masalah sepele yang sering dihadapi para desainer game: terlalu banyak pintu, dan kebutuhan mendesak akan sebuah jalan buntu.

Darurat Jalan Buntu, Berkah di Lipatan Kanvas

Di musim panas 2022, sang developer sedang membangun interior rumah untuk Death of the Reprobate. Karena seluruh aset game-nya benar-benar dipotong dari lukisan Renaissance, ia tidak bisa begitu saja menghapus pintu tanpa menemukan pengganti dinding yang cocok. Masalahnya, pelukis era itu jarang melukis tembok kosong.

Setelah frustasi dengan lukisan taman yang ternyata juga penuh pintu, proyek itu sempat ditinggalkan. Enam bulan kemudian, saat sedang asyik menjelajahi katalog museum, ia menemukan lukisan Andreas Schelfhout, Binnenplaatsje (1820-1830) —sebuah halaman dalam yang sempurna. Meski secara teknis sudah bukan era Renaissance, ia mengaku sudah melonggarkan definisi "seni Renaissance" demi menyelamatkan desain level.

"Lihat itu! Batas kiri dan kanan yang jelas, area lantai terbuka yang bagus, dan ada seekor anjing yang mungkin bisa dielus! Bahkan pintunya mirip dengan adegan sebelumnya. Para dewa benar-benar tersenyum padaku."

Dua sosok manusia dalam lukisan itu kemudian disingkirkan: seorang wanita yang membelakangi dan seorang bocah lelaki yang menurutnya "terlihat menyebalkan". Setelah pintu dibuka dan musisi latar ditambahkan (setiap adegan di game ini memang punya musik diegetic), muncul masalah baru: adegan jadi terasa kosong, plus ada bekas jahitan digital yang jelek di tempat orang-orang tadi berdiri. Ia butuh sesuatu yang besar, gampang dianimasikan, dan cukup menutupi tambalan buruk itu.

Sang Banteng yang Mengubah Segalanya

Setelah melewati ide pria dalam gaun istri dan Adam-Hawa yang terlalu tinggi, pilihan jatuh pada sebuah lukisan studi banteng karya Jacques Raymond Brascassat (1850). Bentuknya persegi panjang sempurna, statis, dan damai.

Sekarang panggung sudah siap. Ia lalu mulai mengutak-atik pompa air di halaman itu. Ia memutar pegangannya, memotong-motong gambar sungai untuk menciptakan animasi air mengalir. Semua berjalan normal.

Lalu muncullah momen eureka yang absurd. Ia memandangi sudut pantat banteng yang tepat sejajar dengan pancuran air pompa. Ia membalik dan mewarnai ulang animasi air itu. Jadilah semburan kotoran sapi merah muda. Ia pun tertawa sendiri. Dan di titik itulah takdir sebuah puzzle aneh sudah ditentukan.

"Oh tidak. Aku telah membuat diriku sendiri cekikikan. Sekarang aku tidak punya pilihan selain menulis teka-teki tentang ember penuh kotoran sapi merah muda."

Dari Sekadar Guyuran Jadi Mekanik Inti

Selebihnya, cerita mengalir begitu saja. Tentu saja pemain akan diizinkan memberi makan banteng itu. Dan tentu saja, makanan yang berbeda akan menghasilkan warna pupuk yang berbeda pula. Sebuah kecelakaan desain yang bermula dari kelebihan pintu, berubah menjadi salah satu puzzle paling tidak terduga dalam sejarah game point-and-click modern.

Kisah ini sekaligus menjadi bukti betapa liar dan indahnya proses kreatif di balik The Immortal John Triptych. Jadi, kalau nanti kamu menemukan ember berisi kotoran sapi merah muda di game ini, kamu sudah tahu duduk perkaranya: seorang developer putus asa, seekor banteng statis, dan pompa air yang salah penempatan.

KOMUNITAS